Posted by: scootman | August 14, 2016

Jazz, Lampion & Ritual Cukur Rambut Gembel di Acara DCF 2016

13902768_10210645273518684_891998137641693126_n

Dieng Culture Festival  (DCF) 2016 merupakan salah satu event tahunan yang secara rutin digelar di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Dataran Tinggi Dieng secara geografis berada dalam wilayah Kabupaten Banjarnegara dan sebagian di wilayah Kabupaten Wonosobo.  Dieng Culture Festival merupakan kegiatan kebudayaan yang digagas oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, yang dilaksanakan untuk melestarikan kebudayaan dan tradisi, sekaligus sebagai promosi potensi wisata alam di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Acara utama dalam Dieng Culture Festival adalah ritual cukur rambut anak gimbal, dimana dalam tradisi masyarakat di Dataran Tinggi Dieng, anak gimbal, jika hendak dicukur rambutnya harus melalui prosesi ruwatan yang sakral. Tradisi tersebut masih bertahan bertahan hingga saat ini. Dieng Culture Festival merupakan salah satu contoh event yang baik dalam menyatukan seni, budaya, tradisi, alam dan tentunya industri kreatif dalam satu event. Tentunya, kolaborasi ini menghasilkan suatu event dengan daya tarik yang unik, dan menarik. Festival budaya ini, kini memasuki tahun ke-7  penyelenggaraan pada tahun 2016, dengan mengambil tajuk The Soul of Culture . Dieng Culture Festival diselenggarakan pada 5 hingga  7  Agustus 2016.

Hari Pertama DCF 2016
Dieng Culture Festival (DCF) 2016 memiliki tiga acara utama, yaitu acara Jazz Atas Awan, festival lampion dan kembang api, serta rangkaian upacara adat pencukuran rambut gimbal, sebagai acara puncak DCF. Pembukaan DCF 2016 dilakukan pada 5 Agustus  2016, dihadiri oleh Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo dan dibuka dengan  Tema DCF tahun ini adalah The Soul of Culture, setiap kebudayaan di dalamnya terdapat pengetahuan dan ajaran yang sifatnya tak tampak (intangible) dan menjadi sumber yang baik untuk kehidupan manusia. Maka dari itu, budayawan Emha Ainun Najib atau yang biasa dipanggil Cak Nun beserta komunitas Kiai Kanjeng didapuk menjadi pembuka DCF 2016.

13975511_10210645406802016_1506746221771450301_o
Festival Film Dieng juga turut menjadi bagian dari DCF 2016. Diadakan di Ruang Teater Museum Kailasa, pengunjung bisa memilih dari tiga waktu pertunjukan dari pagi hingga malam hari.
Salah satu atraksi utama DCF adalah Jazz Atas Awan, yang untuk tahun ini diadakan selama dua malam. Jazz Atas Awan adalah sebuah pengalaman pagelaran musik yang unik karena diadakan di ketinggian 2.100 meter di atas permukaan laut dengan suhu mencapai 4-7 derajat Celcius di malam hari. Penonton harus menyiapkan diri dengan jaket tebal, penutup kepala, dan sarung tangan agar tetap hangat selama pertunjukan.

13962765_10210646540510358_1200682914644651663_n
Pertunjukan musik ini disemarakkan oleh musisi dari berbagai komunitas jazz di Indonesia. Bertempat di kompleks Candi Arjuna, Jazz Atas Awan diawali dengan hadrah dari Dieng Kulon. Komika multitalenta Anang Batas, Candra Mukti dan Yusril Fahriza menjadi pemandu acara Jazz Atas Awan yang selalu memancing gelak tawa dari penonton.
, Jazz Atas Awan berhasil menyedot perhatian ribuan penonton. Penyelenggaraan Jazz Atas Awan dilakukan di Pelataran Timur Kompleks Candi Arjuna. Sensasi berbeda menikmati alunan musik jazz di tengah suhu dingin Dataran Tinggi Dieng (2200 mdpl). Uniknya lagi, para pemegang tiket VIP DCF 2016 dapat menonton jazz sambil membakar jagung yang dibagikan panitia atau sekedar menghangatkan tubuh dengan anglo yang sudah disiapkan panitia. Walaupun demikian, penonton tanpa tiket juga dapat menikmati acara jazz tersebut, meskipun hanya dapat menonton di luar pagar pembatas. Pada malam itu, seluruh bintang tamu tampil luar biasa, terutama  ada kejutan artis iyang hadir pada DCF 2016. Acara Jazz Atas Awan berlangsung hingga pukul 00.00 WIB, menandakan selesainya penyelenggaraan DCF 2016 hari pertama.

Hari kedua DCF 2016
Pada hari kedua penyelenggaraan DCF 2016, dimulai dengan acara ekspedisi mengejar sunrise di Bukit Pangonan, dilanjutkan dengan penanaman pohon dan acara jalan sehat serta minum purwaceng bareng. Kegiatan ini membuktikan bahwa DCF mampu mengkolaborasikan dengan baik seni, budaya, alam dan kesehatan dalam satu event saja. Pada hari kedua DCF 2016, festival lampion dan kembang api yang menjadi puncak acara, diselenggarakan pada malam hari. Pada pukul 19.00 WIB, ribuan orang tumpah ruah di Pelataran Candi Arjuna. Khusus pemegang tiket DCF, panitia membagikan satu buah lampion yang akan diterbangkan bersama-sama. Untuk acara lampion ini, penonton yang tidak mempunyai tiket dapat masuk area lampion, namun bedanya mereka tidak dapat ikut menerbangkan lampion. Acara puncak hari kedua pun dimulai dengan tarian api yang ditarikan di sekitar api unggun dekat dengan panggung utama. Setelah lagu terakhir yang dibawain Anji dengan memberikan aba aba agar penonton mempersiapkan unatuk menerbangkan lampion masing masing.

Ribuan lampion  berhasil diterbangkan malam itu, diiringi dengan kembang api yang ditembakan ke atas langit Dieng. Sekitar pukul 21.00 WIB, acara lampion dan kembang api pun usai dengan kejutan dari panitia mendatangkan artis ibukota Anji dan Mus Mujiono  Acara kemudian dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit yang diselenggarakan di panggung yang berbeda , yang masih dalam pelataran timur kompleks Dieng .

Hari Ketiga DCF 2016
Hari ketiga akan menjadi puncak acara DCF setiap tahunnya. Agendanya, apalagi kalau bukan Ritual Cukur Rambut Gimbal. Pemotongan rambut anak-anak berambut gimbal ini memerlukan ritual khusus dan sakral karena anak berambut gimbal dianggap sebagai titisan dewa. Anak berambut gimbal ini merupakan titisan Eyang Agung Kaladate dan Nini Ronce, yang merupakan leluhur suku dieng dan juga pertapa berambut gimbal pada jaman Majapahit. Apabila rambut gimbal itu dipotong sembarangan, dipercaya bahwa rambut gimbalnya akan tumbuh lagi. Bahayanya lagi, anak tersebut dapat jatuh sakit dan mendatangkan bencana bagi keluarganya. Uniknya lagi, prosesi ini hanya bisa dilakukan atas permintaan (atau persetujuan) anak yang berambut gimbal, dan apapun permintaan sang anak harus dipenuhi oleh orang tua atau walinya. Jangan heran kalau nanti permintaan mereka unik-unik, yah namanya saja anak-anak.


Ritual Cukur Rambut Gimbal pada hari ketiga penyelenggaraan DCF 2016, dimulai dengan kirab budaya keliling Dieng, yang dimulai dari rumah tetua adat Dieng sampai akhirnya finish di dalam kompleks Candi Arjuna. Anak berambut gimbal akan diarak keliling dieng, diikuti dengan beragam sesaji yang disediakan sebagai “ubo rampe”. Tidak ketinggalan pula, performance rombongan pendukung kirab, yang menarikan tarian tradisional pada beberapa titik.
Pengunjung yang mempunyai tiket dapat masuk ke dalam kompleks Candi Arjuna. Sementara itu, pengunjung yang tidak mempunyai tiket hanya menonton dari luar garis pembatas yang telah disediakan panitia. Oh iya, beberapa pengunjung sudah terlihat menempati diri di depan Candi Arjuna maupun di Dharmasala kompleks Candi Arjuna. Mereka mencari spot yang terbaik untuk mengikuti prosesi ritual. Kirab rombongan anak berambut gimbal akan memasuki kompleks Candi Arjuna untuk menuju Dharmasala terlebih dahulu untuk melakukan ritual Jamasan (Penyucian rambut), sebelum nantinya dibawa menuju pelataran Candi Arjuna, tempat dimana ritual cukur rambut akan dilaksanakan.


Sementara itu, di depan Candi Arjuna, wisatawan duduk rapih di depan pelataran candi menunggu datangnya rombongan anak gimbal yang akan mengikuti prosesi ruwatan. Pada tahun ini, ada 11 anak berambut gimbal yang akan menjalani ritual tersebut. Umurnya bervariasi, mulai dari 4 hingga 8 tahun. Permintaan mereka pun unik-unik, antara lain ada yang meminta gelang emas, sepeda, Baju dengan motif Frozen , sepasang marmut , penari lengger, hingga ada yang meminta anak sapi. Permintaan tersebut harus dipenuhi dan diberikan langsung kepada anak tersebut setelah ritual pemotongan selesai. Pemotongan rambut gimbal dilakukan secara bergantian oleh pemangku adat, pejabat daerah, Gubernur Jawa Tengan Ganjar Pranowo, artis ibukota Anji , yang ternyata turut hadir mengikuti ritual tersebut. Setelah semua ritual pemotongan selesai, potongan rambut gimbal tersebut kemudian dihanyutkan ke Telaga Warna yang menandakan bahwa rambut tersebut dikembalikan ke pemiliknya, yaitu Ratu Laut Kidul. Ritual ini disebut ritual pelarungan rambut gimbal. Ritual ini pun menandakan bahwa penyelenggaraan DCF 2016 telah usai.

Pengalaman beda dan unik, saya rasakan saat mengikuti event DCF 2016. Salut saya kepada semua pihak penyelenggara yang mampu menghadirkan event yang secara kreatif mengabungkan budaya tradisi leluhur dengan acara modern yang dikemas secara baik. Tidak heran jika acara DCF, dapat menyedot perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara setiap tahunnya. Jika ada kesempatan pun, saya mau untuk melihat DCF tahun depan. Semoga ya.

Tips bagi penonton yang ingin mengikuti DCF tahun depan:
1.    Harus rajin mengikuti informasi DCF melalui website atau pun Twiiter @FestivalDieng
2.    Pastikan anda membeli tiket terlebih dahulu, dan disarankan untuk memesan penginapan dari jauh hari sebelumnya. Anda dapat memesan hostel, homestay di sekitar Desa Dieng Wetan dan Dieng Kulon. Beberapa agen wisata juga menjual paket tiket dan penginapan sekaligus.  Sebagai informasi, tahun ini, panitia menjual tiket VIP seharga Rp. 250.000,00/ tiket terusan tiga hari penyelenggaraan DCF 2016, yang dapat di beli melalui Website Resmi DCF 2016.  Bagi para pemegang tiket, selain mendapat keuntungan saat berada di dalam venue, pemegang tiket juga mendapat goodie bag yang berisi kaos DCF, kain batik, gelang, dan buku petunjuk acara.
3.    Karena suhu Dieng yang dingin, maka wajib bagi anda untuk membawa pakaian tebal, sarung tangan, atau keperluan lainnya.
4.    Akses menuju Dieng, sangatlah mudah terutama bila dijangkau dari Wonosobo. Jalanan yang berliku, membuat anda harus ekstra waspada.
5.    Ajaklah sebanyak mungkin teman anda, semakin banyak maka semakin seru pula.
6.    Usahakan anda meluangkan waktu lebih, karena Dataran Tinggi Dieng sangatlah luas dan beragam tempat wisata yang dapat anda datangi dan sayang jika dilewatkan. Jika yang menyukai wisata alam, anda bisa menyempatkan untuk mendaki Puncak Sikunir maupun Gunung Prau, dimana anda dapat melihat matahari terbit nan elok.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah


Responses

  1. Kebayang dingiinnya. 4 derajaad, boook.
    Aku tahun ini kagak nonton DCF. Hiks

    • Iyaa …bener” dingin


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Nice Camp Outdoor Activities

Sewa Peralatan Kemping Kemah Camping, Sewa Tenda Kemping Kemah Camping

" BerScooTer KitA BeRsAudara "

"Jabat Erat PerSaudaraan scooterist"

%d bloggers like this: