Posted by: scootman | November 8, 2016

Menikmati Danau Sentani dan Wisata sejarah di Bumi Cendrawasih

Perjalanan menuju MacArthur Memorial atau Tugu MacArthur terkesan mencekam. Ya, untuk menuju ke situs bersejarah tersebut, pengunjung harus masuk ke kawasan Resimen Induk Kodam (Rindam) XVIII Trikora.

Dari Sentani , Papua,saya dan teman” dari sumatera dan jakarta diantar dedengkot komunitas Vespa Sentani Canvas  (Baim), bergerak ke arah Ifar Gunung melewati Danau Sentani. Sepanjang perjalanan melewati jalan aspal yang mulus, panorama Danau Sentani sangat memanjakan mata. Plus, gugusan pegunungan Cyclops kehijauan,bikin adem suasana hati 
Vespa pun terus melaju ke kawasan pegunungan yang berada di ketinggian 325 meter di atas permukaan laut. Di atasnya sudah menunggu tugu MacArthur. Karena terkenal sebagai lokasi tugu MacArthur, penduduk lokal sering menyebutnya sebagai Bukit Makatur. 
Jalanan semakin berkelok saat menaiki bukit. Udara yang sejuk khas pegunungan menyeruak dan menyegarkan. Namun, saat memasuki kawasan Rindam XVIII Trikora, pengunjung harus izin terlebih dahulu di pos penjagaan yang berada di pintu masuk.

Kesan menyeramkan seketika sirna, saat teman lapor kepada petugas berseragam militer dengan senajata laras panjang membawa tamu ingin melihat saksi sejarah sang jenderal. Setelah meminta kartu identitas dan kemudian mempersilahkan masuk. 

Dan kami dan rombongan berempat melanjutkan kembali perjalanan ke dalam kawasan militer tersebut
Masuk ke dalam, nuansa militer semakin terasa kuat. Saat Vespa melaju menuju tugu, para prajurit TNI tampak sedang berlatih. Wajah-wajah khas Nusantara memenuhi kawasan tersebut. Namun, siapa sangka, lebih dari setengah abad lalu, tempat itu dipenuhi tentara-tentara berkulit putih.


Markas
Sekutu
Akhirnya, setelah perjalanan setengah dari Kota Kota Sentani, sampai juga di tugu MacArthur. Sebuah tulisan tertera di tugu tersebut. 

Dari tulisan inilah, pengunjung dapat mengetahui bahwa sebelumnya lokasi itu adalah markas besar umum pasukan sekutu untuk kawasan pasifik barat daya. 

Dulunya, di tempat ini memang ada sebuah bangunan kantor yang luas. Namun, saat ini sudah tidak tersisa dan hanya meninggalkan sebuah tugu. Jika ingin mengetahui seperti apa markas itu dahulu, Anda bisa bertandang ke sebuah rumah kecil tepat di sebelah tugu.(Pusat Informasi)
Di dalamnya terdapat foto-foto masa-masa MacArthur datang ke Papua. Salah satunya adalah foto markas yang masih tegak berdiri.
Kisah jenderal Amerika Serikat, Douglas MacArthur, memang selalu menarik diikuti. 

Apalagi buat penggemar sejarah, wajib melakukan wisata sejarah ke sini. Jenderal yang gemar mengisap tembakau dengan cangklong itu menjadi otak di balik kemenangan Amerika Serikat dan sekutu atas Perang Dunia II di wilayah Pasifik.

Pada 1942, MacArthur terpaksa mundur dari Filipina karena didesak serbuan tentara Jepang,  setelah Jepang membom pangkalan militer Amerika Serikat di Filipina. Kejadian ini hanya beberapa jam setelah Jepang menyerang Pearl Habour di Hawaii.

Saat itulah, MacArthur melontarkan kata-katanya yang kemudian menjadi terkenal itu. “I come through and I shall return”.
Kata-kata itu pun menjadi nyata, dan Papua menjadi titik keberhasilannya. Terbukti, dua tahun kemudian MacArthur berhasil mengusir Jepang dari Solomon dan sebagian daerah Papua Nugini. 
Ia pun melancarkan rencana merebut Papua dari Jepang. Papua harus direbut sebagai batu loncatan untuk merebut kembali Filipina. Rencana ini berhasil, dan tugu memorial di Bukit Makatur menjadi saksi sejarah itu. 
Bertahun-tahun kemudian, markas Jenderal Cangklong itu pun tetap menjadi markas militer. Namun, markas itu telah berubah menjadi markas militer (TNI) Pemerintah Indonesia. Tetapi, walaupun berada di kawasan markas militer, situs ini tetap dikelola oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Papua. 
Panorama Indah kota Sentani 
 Panorama cantik paduan kehijauan pegunungan Cyclops dan Danau Sentani tampak membiru. Landasan Bandara Sentani pun terlihat jelas. Semuanya tampak mengagumkan.
“Biasanya cerah pada jam dua atau tiga siang. Kabut sudah tidak ada lagi,” saran Hans. Salah seorang petugas dikawasan tersebut
Tepat di depan tugu, ada beberapa kursi panjang dari beton. Ada tiga kursi beton di sisi atas dan tiga lagi di sisi bawah. Ada pula gubukan untuk tempat duduk-duduk sambil menikmati indahnya panorama Sentani dari ketinggian.
“Tiga kursi beton yang lebih dekat ke tugu itu sudah ada sejak masa MacArthur. Yang di tengah itu kursi favoritnya (MacArthur). Dia suka duduk di sana sambil memandangi Sentani,” cerita Hans.

Ya, siapa sangka sebuah kursi beton yang tampak sederhana itu menjadi saksi bisu seorang jenderal besar, yang senang duduk santai sambil memandangi panorama Sentani yang cantik di sini. Mungkin, sambil duduk, sang jenderal memikirkan beragam strategi perang yang kemudian merubah nasib dunia.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Nice Camp Outdoor Activities

Sewa Peralatan Kemping Kemah Camping, Sewa Tenda Kemping Kemah Camping

" BerScooTer KitA BeRsAudara "

"Jabat Erat PerSaudaraan scooterist"

%d bloggers like this: